Bekasi, GN - Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online tidak bijak jika hanya mengukur prestasi dari hasil nilai. Demikian ujar Anggota Komisi D DPRD Kota Bekasi Ronny Hermawan.
Ronny menjelaskan, tolak ukur nilai sama saja dengan memisahkan anak yang mampu dan tidak mampu karena mayoritas anak dengan nilai akademis tinggi berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke atas. Sedangkan, anak dengan nilai akademis rendah mayoritas berasal dari keluarga ekonomi ke bawah.
“Mengapa kebanyakan anak-anak yang nilai akademisnya tinggi berasal dari keluarga mampu karena baik secara finansial. Hal ini karena saat mereka pulang sekolah langsung istirahat yang cukup, selain itu mereka pun kerap mendapatkan pelajaran dari les ataupun bimbel pembelajaran,” jelas Ronny.
Kemudian anak-anak dengan keluarga tidak mampu setelah pulang sekolah disibukkan dengan aktifitas membantu orangtua, jaga adik dan lain sebagainya sehingga waktu belajar berkurang. “Padahal merekalah yang pantas mendapatkan kesempatan untuk sekolah di sekolah negeri, dan tidak bisa dibayangkan jika mereka tidak diterima di sekolah negeri dan harus sekolah di swasta sementara disisi lain keuangan mereka minim,” papar Ronny.
Sementara PPDB online yang sedang berlangsung bukan jaminan mencetak generasi cerdas dan berpendidikan. “Mencetak generasi cerdas dan berpendidikan yang berkualitas itu berbicaranya bukan hanya sekedar online atau bukan, karena hal itu hanya sebuah sistem,” tandasnya
Anggota Komisi D DPRD Kota Bekasi Ronny Hermawan mendukung sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online 2015. Sistem PPDB online dua tahap kata dia, baik karena melibatkan lingkungan di sekitar sekolah.
“Kita minta Sekolah Negeri baik SMPN,SMAN/SMKN tetap alokasikan siswa dari lingkungan sekitar sekolah maksimal radius 5 km,” ucap Ronny. Berdasarkan UUD 1945 bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, maka itu hak mendapatkan pendidikan tetap melekat pada anak-anak yang tinggal di sekitar Sekolah Negeri.
“Karena tujuan awal dibangun sekolah oleh pemerintah adalah untuk melayani kebutuhan pendidikan bagi anak anak di area tersebut,” papar Ronny. Meski begitu, idealnya radius di sekitar lingkungan sekolah seharusnya tak perlu melalui sistem online atau pendaftaran.
Hal ini berkaca juga dari pengalaman tahun lalu dimana siswa yang jauh diterima di sekolah Negeri namun, karena jarak yang jauh mereka (siswa) tidak melanjutkan mendaftar ulang.“Sangat aneh kalau anak sekolah lebih dari radius 5-10 km dari kediaman nya, maka akan ada biaya transport. Selain itu faktor keamanan juga jadi pertimbangan,” pungkasnya.(Sulaiman)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar